-->

Anies Puji Cover Tempo Bergambar Dirinya dalam Kubangan Aibon

- Senin, November 11, 2019



THEJAKARTAWEEKLY -- Respon positif ditunjukkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan atas cover Majalah TEMPO terbaru  edisi 11 November 2019 yang terkesan negatif.

TEMPO menampilkan liputan utama dengan judul cover "Aib Anggaran Anies" tentang RAPBD DKI Jakarta 2020 yang kini jadi sorotan publik.

Covernya Tempo menampilkan karikatur Anies yang digambarkan terlilit kubangan lem Aibon. Lem Aica Aibon adalah salah satu item di RAPBD DKI yang menjadi memantik kritik politisi PSI di DPRD DKI. Publik heboh.

Yang membuat publik berdecak kagum, Anies justru menanggapinya dengan elegan.  Anies malah menyampaikan terimakasih kepada TEMPO.

"Terima kasih Tempo telah jalankan tugasnya sbg pilar keempat demokrasi. Semoga perbaikan sistem yg sdg berjalan bisa segera kami tuntaskan. Terus awasi kami yg sdg bertugas di pemerintahan...," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di akun twitternya, Minggu (10/11/2019) pagi.

Anies juga memuji karikatur diirinya di cover majalah TEMPO.

"Karikaturnya boleh juga. Kalau tidak begitu bukan Tempo namanya. 😊👍🏼," ujar Anies di tweet yang sama.




Tuit Anies itu pun menuai pujian warganet.

"Hanya #Goodbener Anies Baswedan yang mampu tampil elegan. Tidak temperamental seperti Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, atau Risma," balas akun @mpuanom

Warganet pemilik nama akun Nidha berkomentar, "Subhanallaaahh....luar biasa..
Sy ampe merinding...gubernur rasa presiden memang nyata...
Sehatt trs bpk... semoga Allahh mmberi kmudahan disetiap langkahh bpk ..!!!"

Sementara wartawan senior Edy A Effendi berkata, "Biasa saja. Sebagai tokoh publik, dia harus tulis seperti itu. Jokowi dan Prabowo diperlakukan sama oleh Tempo tapi mereka diam. Tak melakukan reaksi apapun. Dari sini harusnya paham."

Ada yang terharu seperti komentar @Vife70664464. Ia mengaku terharu dengan reaksi Anies atas cover Tempo. 

"Mulianya Hatimu Gubernur ku.. 
Hampir Menetes Air mata baca Tweet ini.. Smga Allah Menaikan Drajatmu.. Yg tdk Pernah Membalas Perbuatan Keji Mereka, Kau Jalankan Semua Yg Rosull Kt Ajarkan.. Ya Allah Berikanlah Rahamatmu dan Lindungi Hambamu ini Pak @aniesbaswedan."

Meski banyak pujian, ada juga warganet yang berkomentar negatif.

"Pura2 bijak. Pdhal skrng sdng bntuk TIM gugat tempe," tulis Ari Murtono.


Anies Pernah Demo Pembreidelan Tempo



Anies Baswedan di masa lalu tahun 1994 pernah memimpin demo memprotes rezim Soeharto yang membreidel Tempo, Editor, dan tabloid Detik. 

Tony Rosyid, pengamat politik dalam Grup WA wartawan Press Release Center mengungkap kembali kenangan demo tersebut, seperti berikut ini:

Semalam search di google cari Anies dan Tempo, terus ketemu postingan lama seroang alumni UGM yg tinggal di Jerman. Di tahun 2009 dia menulis kisah tentang Anies saat memimpin demo memprotes pembredelan pers jaman Suharto tahun 1994.

———-

Kisah Anies Dipopor Laras Senjata

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Mon May 21, 2007 6:15 pm)

Dr. Anies Rasyid Baswedan MS diangkat menjadi Rektor Universitas Paramadina. Saya tertegun. Kembali cerita dari sahabat saya tentang Anies Baswedan memenuhi memori ini. Cerita ini pula yang membuat saya optimis suatu ketika orang-orang jujur akan memimpin bangsa ini. Menyelamatkan kita dari keterpurukan…

Dari kesaksian seorang sahabat. Sebut saja sahabat kita itu: Faraz Ramadhan. Dia mantan pimpinan senat mahasiswa UGM dari kelompok hijau (bukan hijau militer lho, kalo pinjem kata Clifford Geertz; kelompok
hijau santri :).

Cerita Faraz jujur kepada saya tentang Anies Rasyid Baswedan…

Tahun 1994 kalau tidak salah, mahasiswa Yogya demo di bunderan. Menentang pembredelan Detik, Tempo dan satu lagi saya lupa namanya. Mahasiswa menolak kesewenangan pembredelan itu. Mereka demo menentang!

Saat itu 1994, Wak Dhe (Uwak Gede) dari pada Haji dari pada Muhammad dari pada Soeharto sedang represif-represifnya. Setiap demo langsung dihadapi oleh lars senapan militer.

Siang terik. Jam menunjukkan pukul 13.30. Mahasiswa yang sudah capek berdemo sejak pagi, bersiap ingin membubarkan diri.

Tiba-tiba komandan militer kasih perintah melalui pengeras suara kepada mahasiswa:
“Dalam 30 menit lagi anda harus bubar!”
“Jika tidak, maka kami yang akan membubarkan dengan paksa!!!”

Mendapat perintah represif tsb, justru membangkitkan semangat perlawanan mahasiswa. Bukannya bubar, massa mahasiswa bersatu merapatkan barisan. Mereka bertekad tidak mau bubar. Siap melawan.

Papan batu hijau muda bertuliskan “Selamat Datang di Kampus Universitas Gadjah Mada”, terletak tepat ditengah „Bunderan” dijadikan D’ Alamo, benteng perlawanan massa mahasiswa. Sementara batalyon pasukan militer (Brimob) berjejer rapi, profesional jali, di depan RS Panti Rapih. Hanya berjarak 100 meter persis di depan D’ Alamo -nya mahasiswa.

Pukul 13.45. Suasana semakin heroik. Keberanian menggelora di dada. Idialisme tinggi membubung menembus lapisan awan tertinggi. Seakan seluruh mahasiswa siap menyerahkan selembar nyawa di badan.

Tapi benarkah demikian? Pukul 13.55, berarti 5 menit sebelum deadline, Faraz dengan cemas melihat kebelakang. Kaget dia tidak percaya dengan penglihatannya!

Bambang Nursanto Suryolaksono (bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis FE UGM), atau aktivis gadis Amoy Rekena (juga bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis juga), dan lain-lainnya sedang lari sipat tukang menyelamatkan diri.  

Wuss…, wuss…, wuss…, kabur nyaris tak terdengar. Mereka tidak memperdulikan nasib mahasiswa lain yang berhadapan langsung dengan lars senapan.

Faraz cemas. Dia sadar hanya dia dan Anies Baswedan lah yang berada di garis terdepan. Memang mereka bersama ribuan massa mahasiswa. Tapi mereka itu massa mengambang. Bukan tokoh aktivis. Sementara para tokoh aktivis lain sudah lari menyelamatkan diri.

Faraz menoleh, bertanya pada Anies seniornya: “Anies, semua pimpinan aktivis dari kelompok-kelompok lain sudah kabur. Cuma kita yang berada digaris depan. Kenapa kita tidak ikut lari?” —tanya Faraz dengan suara bergetar menahan takut tak terkira.

(Iyalah Faraz cemas. Saat itu bukan jaman pasca reformasi Bung! Laras senjata di depan mata. Acaman hidup mati riil hanya berjarak beberapa jengkal)

Anies senyum tenang menoleh dengan kalem:

“Raz, kita ini pemimpin. Kita tidak boleh lari meninggalkan mereka (massa mengambang —red). Mereka berdemo dengan keberanian di dada karena mereka percaya pada kita.
Haruskah kita meninggalkan mereka ketika ancaman hidup mati di depan mata?”

Faraz diam sambil lirih menjawab: "Bener Nis, tapi aku takut sekali”.

"Justru pada saat seperti inilah kita harus percaya bahwa Allah SWT pasti melindungi kita. Yang membedakan kita dengan mereka (para pemimpin mahasiswa yang lari —red) cuma satu, yaitu: Iman!” jawab Anies dengan tegas!

Berbagai cita rasa bercampur aduk antara takut, cemas, malu di dada Faraz.

Sadar bahwa Faraz sangat tertekan, Anies kembali senyum bicara:
"Raz, kalau kamu mau lari, larilah sekarang. Mumpung belum terlambat. Aku sangat memahami keputusanmu untuk lari. Tapi aku tetap akan bertahan disini. Dan aku akan berterima kasih jika kamu juga tetap disini bertahan bersamaku”.

Begitu lah Anies menutup pembicaraan. 

Selanjutnya seluruh fokus dan konsentrasinya diarahkan untuk menghadapi lawannya, se-Batalyon pasukan tembur yang siap membantai!

Keberanian dan ketulusan Anies menginspirasi si Faraz. Dengan sisa-sisa keberanian terakhir disertai doa-doa terakhirnya, Faraz tegak membatu di samping Anies. Dia memutuskan untuk bertahan apapun yang terjadi, um jeden Preis!

Tepat pukul 14.00, dalam satu komando; „Bantai!”, maka gerak pasukan topan badai menyerbu. Bukannya lari, Anies malah maju kedepan beberapa langkah. Berteriak dia mengusir:

"Hey, ini kampus mahasiswa! Keluar kalian semua! Kalian tidak pantas masuk kampus ini!!!”

Tapi apalah arti teriakan Anies itu dalam telinga „pasukan robot-2 pembunuh profesional”. Detik berikutnya, Anies, Faraz, dan seluruh mahasiswa terjungkal di garis depan. Sahabat-sahabat Anies dari kelompok hijau, yang berada di Gelanggang Mahasiswa segera maju menuju Bunderan untuk memperkuat barisan dan mencoba menyelamatkan Anies. Sayang keberanian dan ketulusan itu justru dibayar mahal dengan percikan darah.

Hari itu, Anies Rasyid Basewedan terjungkal kena popor senapan. Tapi hari itu juga membuktikan bahwa keteguhan Anies untuk mempertahankan kebenaran tidak pernah terjungkal meskipun berhadapan dengan laras senapan dan nyawanya adalah taruhannya…

Teriringi Doa dan Harapan saya semoga sahabat Anies sukses memimpin Universitas Paramadina.

21 Mei 2007, Dari kesunyian lembah Sungai Elbe di Jerman,

Ferizal Ramli

https://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/dr-anies-rasyid-baswedan-ms-rektor-universitas-paramadina-mulya/

==========

25 tahun lalu, saat jadi pemimpin mahasiswa, Anies berjuang utk kebebasan pers. Kini, saat jadi pemimpin pemerintahan, dia konsisten hormati kebebasan pers. Menjadi demokrat sejati itu dibuktikan dengan rekam jejak ! (Oce Satria)
 

Start typing and press Enter to search